Berdasarkan Data Dari Google Berbelanja Online Kini Lebih Banyak Dari Ponsel

Proses Hari Berbelanja On-line Nasional (Harbolnas) 2016 menyedot perhatian. Aktivitas itu sekalian jadi pemberi tanda perubahan pola hidup orang-orang dalam belanja. Dalam penelitian Nielsen Indonesia, 61% pemakai internet di Indonesia belanja on-line di Harbolnas dimana hampir semua toko online dilengkapi dengan cek resi untuk konsumen. Angka itu bertambah 11% dari angka yang terdaftar th. kemarin.

Dalam kesibukan itu Google juga mencatat trend customer. Dari data Google tampak pemakaian hp saat ini banyak dikerjakan dalam transaksi. Dari mulai survey harga, survey product sampai lakukan transaksi.

Berdasarkan Data Dari Google Berbelanja Online Kini Lebih Banyak Dari Ponsel

” Customer jadikan hp jadi pintu untuk temukan keperluan mereka, ” kata Henky Prihatna Country Industry Head Google Indonesia

Berdasarkan data Google, kelompok pencarian teratas seperti product kecantikan, personal care, gadget serta aksesories, baju dan barang untuk bayi. Google menyebutkan, berdasar pada trend itu ada kecenderungan orang-orang Indonesia yang jadikan hp jadi asisten berbelanja baru.

Salah satunya, 71% menyebutkan smartphone yaitu piranti paling utama dalam kesibukan on-line. Sesaat, 77% pemakai berkunjung ke toko atau website belanja sesudah lakukan pencarian umum lewat hp.

Google juga mencatat, estimasi rata-rata pemakaian hp sehari-hari tambah lebih tinggi dari pada personal computer (PC). Estimasi itu yaitu pemakai hp 136 menit /hari sesaat desktop cuma 52 menit.

Data yang lain, 92% pemakai hp juga akan beli dari satu aplikasi atau website. Dengan catatan, website atau aplikasi itu memberi info yang relevan serta menolong dalam pencarian dan buat ketentuan.

Dan Kini Ketua Asosiasi Entrepreneur Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani merekomendasikan pemerintah mulai mengatur mekanisme berbagi economy di bagian akomodasi yang dikerjakan oleh website Airbnb (Airbed and Breakfast) asal Amerika Serikat.

Website Airbnb sangat mungkin customer yang memakai jasa itu untuk menyewa kamar, ruang, sampai tempat tinggal seorang untuk bermalam.

” Airbnb jadi keprihatinan kami, karna kami seperti hadapi persaingan perebutan dengan hantu. Mesti ada sikap yang pasti dari pemerintah, ” kata Hariyadi waktu jadi pembicara dalam CORE Economic Outlook 2018 di Hotel JS Luwansa

Hariyadi menerangkan, orang-orang di Indonesia banyak jadi customer dari website Airbnb. Berdasar pada perhitungan sesaat dari Apindo, perubahan pemakai Airbnb di Indonesia tumbuh cepat sampai menjangkau 72 %.

Sesaat, customer Airbnb sekalian adalah pasar dari aktor usaha hotel serta penginapan yang masih tetap memakai langkah konvensional dalam melakukan bisnis. Hariyadi juga menyinggung mengenai potensi negara kehilangan pajak dari aktivitas usaha Airbnb yang hingga sekarang ini belum juga ditata selanjutnya.

” Mereka kan tidak bayar pajak, ini persaingan perebutan yg tidak adil, ” papar Hariyadi.

Dia juga menerangkan, system berbagi economy di bagian akomodasi seperti Airbnb berlainan jauh dengan aktivitas e-commerce. Pemerintah sendiri sekarang ini masih tetap menggodok ketentuan main untuk aktivitas e-commerce.

Pada jenis usaha seperti Airbnb, menurut Hariyadi, mesti ditata sendiri oleh pemerintah untuk memberi keadilan untuk aktor usaha di bagian yang sama.

Leave a Reply